Petani Milenial Bulukumba Kembangkan Potensi Sawah Melalui Wisata dan Mina Padi

0
36
Wisata Baturapa, Bulukumba, Sulawesi Selatan

INN.CO.ID-Hamparan sawah yang luas menjadi pemandangan yang lumrah di Sulawesi Selatan, karena wilayah ini merupakan peringkat satu lumbung padi Indonesia di luar pulau jawa. Namun karena harga panen yang tidak stabil membuat petani harus berinovasi menciptakan side income.

Darwis, petani milenial inspiratif dengan kreatifitasnya berhasil membangun wisata di tengah sawah dengan mendirikan cafe dan mengembangkan mina padi. “Awalnya saya ingin menunjukan pada pemuda tani bahwa bertani ini sangat potensial untuk dikembangkan dan menambah nilai ekonomi dari pendapatan asli bertani.” tuturnya sebagai narasumber webinar inspirasi bisnis intani seri ke 56 (Rabu, 26/01/2022). Ila Failani selaku host webinar mengulik lebih jauh bagaimana Darwis memulai ide kreatifnya membangun tempat wisata di tengah sawah ini.

Tahun 2017 menjadi awal Darwis memaksimalkan potensi sawahnya di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Mengembangkan mina padi yaitu memadukan budidaya padi dan ikan air tawar dengan memanfaatkan genangan air sawah dalam tempat dan waktu yang sama. “Waktu itu saya mulai dengan 10 bibit ikan dari tetangga. Saya kembangkan lalu posting di media sosial sampai akhirnya dapat bantuan bibit ikan nila dari Dinas Perikanan dan Kelautan,” imbuhnya. Darwis juga menambahkan, “dengan mina padi sangat bermanfaat selain meningkatkan nilai ekonomi dari wisata juga bisa bisa mengurangi hama, penggunaan pestisida, hingga hemat pupuk sampai 50 persen.”

Semakin ramai wisata mina padi, banyak pengunjung yang menyarankan untuk dibangun cafe. “Dengan modal cukup satu juta rupiah saya bangun Cafe Sawah Baturapa ini, dengan bangunan yang ramah lingkungan,” tutur Darwis.

Di tengah pandemi pria berusia 33 tahun ini tetap mampu menciptakan peluang baru dengan berinisiatif menganti ikan nila dengan ikan koi. “Selain nilai ekonomi ikan koi yang lebih tinggi, dengan ikan koi lebih banyak menarik minat pengunjung untuk datang.”

Lebih lanjut Darwis mengatakan demi meningkatkan daya tarik pengunjung setiap periode panen padi ia mengadakan festival sawah, namun selama pandemi ditiadakan. Menuju lokasi wisata hanya disediakan akses untuk pejalan kaki sepanjang 200 meter. Hal ini dilakukan agar keasrian sawah tetap terjaga dan alami.

Sebagai penutup webinar ketua umum Intani, Guntur Subagja, menyampaikan pandangannya bahwa saat ini jumlah petani milenial usia range 35 tahun tidak mencapai 10 persen namun dengan apa yang dilakukan Darwis bisa meningkatkan petani milenial. “Dibutuhkan inovasi dan kreatifitas untuk mengubah mindset bertani yang kotor dan hanya bisa memiliki pendapatan dari hasil panen saja. Optimalkan lahan pertanian menjadi destinasi wisata merupakan hal yang bagus untuk menjadi side income petani.” tuturnya.

Darwis pun mengapresiasi Intani yang selalu membuka ruang diskusi sehingga bisa meningkatkan minat petani milenial untuk berinovasi di bidang pertanian. “Bertani itu adalah sesuatu yang sangat bagus, sesuai dengan singkatan petani yaitu ‘penyangga tatanan negara Indonesia’. Semoga lebih banyak petani yang mengembangkan pertanian ke berbagai sektor untuk menambah nilai ekonomi,” tuturnya sebagai pesan di akhir webinar. (sumber: desaglobal.id)*in

LEAVE A REPLY