Sukses Dirikan Rumah Mocaf, Milenial Banjarnegara Sejahterakan Petani Singkong

0
155
Tangkapan Layar Webinar Inspirasi Bisnis INTANI #61 Olah Singkong Jadi Mocaf, Sejahterakan Petani & Tembus Ekspor ditayangkan streaming di TANITV, Rabu(02/03).

INN.CO.ID – ‘Selama Petani Singkong masih menderita, tidak ada kata istirahat’, itulah tagline yang selalu digaungkan Riza Azyumarridha Azra, founder & CEO Rumah Mocaf Indonesia yang menjadi narasumber inspiratif webinar inspirasi bisnis Intani seri ke 61 yang ditayangkan streaming di TANITV (https://youtu.be/HejLP0cKfK4), Rabu (02/03).

Pada tahun 2014, Riza yang awalnya mendirikan komunitas Sekolah Inspirasi Pedalaman dan menggerakkan pemuda menjadi relawan pendidikan ke desa-desa di Banjarnegara, tergerak untuk membantu para petani singkong di sana. “Ada salah satu orang tua siswa mengeluhkan harga panen singkongnya yang hanya dihargai 200 rupiah/kg. Jadi mereka biarkan hasil panennya berhektar-hektar membusuk dari pada dipanen rugi,” tuturnya.

Berlatar belakang lulusan Universitas Gajah Mada jurusan teknik elektro tidak menjadi penghalang bagi Riza untuk terjun mempelajari pertanian. “Saya mulai belajar, baca-baca jurnal, diskusi dengan ahlinya bagaimana meningkatkan added value dari singkong ini. Lalu saya putuskan untuk membuat mocaf.”

Setelah berhasil mengajak petani membuat mocaf, ternyata persoalan lain muncul, mocaf menumpuk, “petani tidak dapat memasarkannya, jadi saya buka Rumah Mocaf”, Riza mengisahkan lahirnya gagasan mendirikan Rumah Mocaf berlandaskan asas sociopreneurship.

“Dengan Rumah Mocaf, kami bisa menyelesaikan tiga permasalah sekaligus. Pertama petani singkong bisa meningkatkan nilai jual panennya, lalu para ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan kini kami berdayakan sebagai pengolah mocaf serta para relawan yang tadinya serabutan sekarang menjadi tim pemasaran dan manajemen sehingga kegiatan sosial dan bisnis bisa berjalan bersama,” tutur Riza.

Rumah Mocaf memiliki konsep integrated farming dengan 100% pertanian organik yang zero waste, memanfaatkan teknologi terbarukan serta manajemen lahan dan analisa usaha tani terstruktur. “Dari berbagai masalah yang dihadapi para petani, kami membentuk konsep ini demi meningkatkan kualitas mocaf yang diproduksi sehingga mampu mensejahterakan kehidupan petani serta masyarakat.”

Kini pemasaran mocaf sudah tembus ke beberapa negara eropa.”Di sana sangat tertarik dengan mocaf, karena gluten free dan indeks glikemiknya rendah. Terbaru kami dapat buyer dari Amsterdam, Belanda. Jadi sekarang produk lokal Banjarnegara sudah berhasil mendunia,” ujar Riza.

Pria kelahiran tahun 1991 ini menuturkan, untuk pasar mocaf ini masih terbuka lebar, karena dari produksinya saja baru memenuhi  0,1% pasar. “Saat ini kita mampu menyerap 30 ton mocaf setara 90 ton singkong setiap bulan. Tadinya harga singkong 200 per kg, sekarang kami beli minimal 1.500 per kg dengan harga mocaf sekitar 10.000 per kg,” pungkasnya.

Guntur Subagja, ketua umum INTANI dalam pengantarnya mengatakan Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa salah satunya singkong, bahkan Indonesia mampu menjadi penghasil singkong terbesar kedua di dunia setelah Brazil. “Disayangkan mindset masyarakat kita masih menganggap singkong itu makanan kaum marginal. Padahal jika mampu dikelola dengan baik seperti yang Riza lakukan, ini bisa menjadi produk berkualitas tinggi bahkan memiliki pasar yang luas tidak hanya nasional tetapi juga internasional.

”Apa yang dilakukan Riza patut untuk ditiru generasi milenial. Memaksimalkan potensi desa untuk membangun perekonomian masyarakat desa. Bersama Intani kami akan terus menginspirasi untuk mencetak lebih banyak generasi milenial seperti Riza di berbagai daerah untuk memajukan ekonomi nasional mulai dari desa, “ tutur Guntur.

Guru Besar FEB Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Gunawan Sumodiningrat, M.Sc., yang juga hadir dalam webinar ini turut menyampaikan apresiasinya kepada Riza. “Bangga dengan Riza, generasi milenial yang mau bekerja dengan konsep ekonomi kebersamaan, ekonomi Pancasila, fokus terukur terencana partisipatif berkelanjutan yang melindungi serta mengayomi petani dengan transparan.”* (na-in)

LEAVE A REPLY