KemenKopUKM Kembangkan Korporasi Nelayan Bersama ISKINDO

0
28

INN.CO.ID, Jakarta – Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) melalui Deputi Bidang Perkoperasian melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama dengan Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO). Kerja sama ini merupakan salah satu bentuk sinergi dalam rangka pengembangan sumber daya ekonomi kelautan dan perikanan melalui program korporasi nelayan melalui wadah koperasi.

Ruang lingkup kerja sama ini meliputi perumusan kajian strategis pengelolaan sumber daya ekonomi kelautan dan perikanan, pemetaan program strategis untuk mendukung program korporasi di sektor kelautan dan perikanan melalui koperasi, sinergi pendampingan dan peningkatan kapasitas, kapabilitas sumber daya manusia, usaha dan kelembagaan koperasi, dan fasilitasi peningkatan akses pembiayaan, peningkatan produktivitas dan akses pemasaran hasil produksi nelayan pada koperasi nelayan.

Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki mengatakan bahwa potensi kelautan dan sektor maritim yang selama ini masih tertidur harus segera dibangkitkan. Peningkatan produktivitas sektor kelautan, menurutnya harus diarahkan untuk menghapus kemiskinan ekstrem di pesisir, penciptaan sumber daya manusia kelautan yang unggul, serta penciptaan lapangan kerja sehingga mampu meningkatkan kemakmuran masyarakat.

“Semua itu hanya bisa terwujud jika kolaborasi dan kemitraan baik pemerintah, akademisi, dunia usaha dalam hal ini UMKM dan usaha besar, masyarakat, serta kerja sama antar negara,” ungkap MenKopUKM secara virtual dalam acara Rakernas III ISKINDO sekaligus penandatangan MoU antara ISKINDO dengan KemenKopUKM di Gedung SMESCO, Jakarta, Kamis (24/2).

Lebih lanjut, Menteri Teten menegaskan bahwa dengan perubahan yang serba cepat dan penuh ketidakpastian baik karena covid-19, maupun ancaman yang mungkin lebih besar ke depan seperti perubahan iklim, maka diskursus ekonomi biru perlu menjadi isu strategis yang dibahas dan diturunkan dalam program dan kegiatan ISKINDO.

Menurutnya, saat ini KemenKopUKM tengah mengembangkan korporatisasi nelayan berbasis koperasi. Program ini dikatakan dapat bersinergi dengan ISKINDO agar koperasi sektor perikanan dan kelautan dapat lebih berkembang.

“Sinergi dengan ISKINDO diharapkan dapat memperkaya keragaman model bisnis, dan pemanfaatan inovasi teknologi lebih maju kepada koperasi-koperasi perikanan dan kelautan di Indonesia,” tegas Menteri Teten.

Di tempat yang sama, Ketua Umum ISKINDO M. Riza Damanik menuturkan bahwa laut sebagai potensi besar di Indonesia belum mampu mengisi peran sebagai kekuatan ekonomi nasional Indonesia.

Pada kepentingan itu, menurutnya seluruh pihak perlu menghidupkan inovasi dan teknologi agar pengelolaan sumber daya laut Indonesia dapat lebih baik lagi.

“ISKINDO ini organisasi profesi yang punya alumni sekitar 35 ribu. Tiap tahun ada 3 ribu sarjana kelautan yang keluar dari 61 perguruan tinggi. Ini SDM unggul yang kita harapkan dapat menggerakan sektor kelautan kita ini. Kami tengah melakukan ragam upaya untuk mengonsolidasikan gagasan sekaligus mengubahnya menjadi aksi kolaboratif. Inilah semangat Rakornas kita tahun ini,” ujar Riza.

Sementara itu, Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Laksdya TNI Aan Kurnia mengatakan bahwa Indonesia meruoakan negara kepulauan yang besar serta kaya sumber daya alam dan memiliki posisi strategis secara geografis sehingga memiliki peluang maritim yang besar.

Beragam peluang yang dimiliki ialah pemanfaatan sumber daya alam dan investasi yang tinggi sehingga dapat menopang pembangunan nasional untuk mewujudkan tujuan nasional Indonesia.

“Saya berharap acara ini dapat membangun kesamaan paradigma antar peserta sehingga dapat memiliki motivasi bersama, sehingga menghasilkan solusi alternatif yang dapat diimplementasikan kepada pemerintah, sekaligus memberikan wawasan kepada masyarakat secara umum,” ucap Aan.

Dalam kesempatan ini, Mantan Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro ikut memberikan inspiring session berkaitan dengan konsep smart maritime untuk mengusung inovasi dan teknologi guna memajukan sektor kelautan dan maritim Indonesia.

Menurutnya, smart maritime harus dibaca sebagai upaya untuk meningkatkan nilai tambah dan produktivitas dari kegiatan di sektor maritim itu sendiri. Produktivitas ini sangat penting karena menunjukkan kemampuan Indonesia untuk meningkatkan produksi dengan sumber daya yang terbatas.

“Artinya dengan sumber daya yang ada, kita bisa menghasilkan produksi yg lebih besar. Itulah esensi dari produktivitas dan ini menjadi penentu ketika kita bersaing. Tidak sekadar total produksi dan income, tapi yang paling penting produktivitas. Karena ini akan menghadirkan profit yang lebih besar. Upaya peningkatan ini harus menggunakan inovasi dan teknologi menggunakan transformasi digital,” pungkas Bambang.* (na-rls)

LEAVE A REPLY