Kelompok Tani Kopi Di Gunung Kelir, Berinovasi Bangun Agrowisata Untuk Tingkatkan Kesejahteraan Petani

0
27
Proses pengolahan biji kopi hasil panen di Agrowwisata dusun Sirap, kabupaten Semarang

INN.CO.ID – Pertanian memiliki potensi besar untuk dikembangkan ke berbagai sektor ekonomi. “Setidaknya pertanian berpengaruh dalam lima sektor ekonomi yaitu, pangan, industri kecantikan, agrowisata, farmasi dan bio energi.” Hal ini disampaikan Guntur Subagja Mahardika, Ketua Umum Intani dalam membuka webinar inspirasi bisnis intani seri ke 54 dengan tema Kelompok Tani Kopi Gunung Kelir Sukses Kembangkan Agrowisata (sumber:channel youtube IndonesiaReview).

Webinar yang streaming setiap rabu, kali ini menghadirkan narasumber Ngadianto, Ketua Kelompok Tani Rahayu IV, dusun Sirap, kabupaten Semarang. Ngadianto bercerita mengapa mengembangkan kebun kopi menjadi agrowisata. Tujuannya untuk meningkatkan perekonomian para anggota kelompok tani dan masyarakat sekitar. “Saya tergerak untuk berinovasi karena jika hanya bergantung pada hasil panen kopi yang setahun sekali pastinya tidak akan cukup.” tuturnya.

Kelompok Tani Rahayu IV berdiri sejak tahun 1998, terdiri dari 30 anggota. Memiliki lahan sekitar 35 hektar dengan produksi kopi 40 ton biji kopi setiap tahun. Dari produksi tersebut hanya 10% produksi kopi yang dijual melalui agrowisata. Sementara 90% produksi kopi petani dipasarkan ke berbagai perusahaan pengolahan kopi di sekitar wilayah Semarang dan Temanggung.

Bukan hal mudah untuk membangun agrowisata. Berawal dari tahun 2013, Ngadianto bersama kelompok tani berhasil menjuarai lomba Ketahanan Pangan Nasional dan dapat hadiah senilai 25 juta rupiah. Sepakat uang hadiah tersebut dipakai untuk membangun tempat ngopi. Hingga tiga tahun yang lalu dikembangkan menjadi agrowisata. Strategi promosi dilakukan melalui berbagai media, hingga akhirnya ada pihak swasta yang melirik dan tergerak untuk membantu mendampingi mengembangkan agrowisata yaitu dari program Bakti BCA, hal ini diceritakan oleh Ngadianto.

Guntur Subagja Mahardika sangat mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Ngadianto. “Dengan mengembangkan agrowisata berbasis tanaman kopi yang bisa menarik kunjungan orang kota untuk datang ke desa, belajar bagaimana kopi diproses dan seperti apa tanaman kopi. Eduwisata seperti ini akan membuat kesadaran kolektif masyarakat sehingga mereka akan peduli terhadap pertanian dan akan menyadari bahwa Indonesia memiliki potensi besar di sektor pertanian untuk dikembangkan.” ungkapnya.

Selanjutnya Yani Setiadiningrat, Ketua Forum Bumbes Indonesia (FBI) dan Ketua Umum Pokdarwis Provinsi Jawa Tengah turut berkomentar dalam webinar ini, bahwa yang dilakukan oleh Ngadianto adalah sesuai dengan nawacita Presiden Joko Widodo membangun melalui daerah pinggiran yaitu desa. “Obor besar dinyalakan di Jakarta tidak akan mampu menerangi desa-desa di seluruh Indonesia, tapi apabila pak ngadianto-ngadianto ini berada di desa maka akan bisa menerangi desa-desa di seluruh Indonesia.”

Terbukti setelah 3 tahun agrowisata dibangun, kesejahteraan masyarakat dusun Sirap meningkat bahkan bisa memberdayakan para pemuda karang taruna untuk mengelola agrowisata tersebut. Berbagai fasilitas yang disediakan di tempat ini, mulai dari wisata alam, eduwisata seputar budidaya tanaman kopi hingga proses pengolahannya, lalu mengenalkan kebudayaan alat musik hingga tarian daerah dan juga fasilitas tempat untuk beragam kegiatan acara.

Apa yang telah dilakukan Ngadianto menjadi inspirasi bahwa menjadi petani bukan hanya sekedar menaman dan menjual hasil panen tetapi harus berinovasi untuk beradaptasi dengan kemajuan zaman. “Petani yang berinovasi adalah petani yang keren, petani yang hebat, petani yang bisa menghidupi manusia di dunia ini. Jangan malu jadi petani. Ayo anak-anak muda kita bergerak di profesi pertanian.” pesan Ngadianto pada akhir webinar. (sumber:desaglobal.id)*rd

LEAVE A REPLY