Abbas, Sang Pandai Besi Pejuang Ekonomi di Tengah Pandemi

0
49
Abbas saat bekerja dibengkelnya. ANTARA/dok

INN.CO.ID – Di masa lalu, pahlawan adalah mereka yang mengangkat senjata dan berperang mengusir penjajah. Namun, nilai-nilai kepahlawanan tersebut masih terus relevan terutama dengan beragam tantangan yang muncul saat pandemi COVID-19 melanda.

Sosok pejuang ekonomi di masa pandemi tersebut, di antaranya dapat ditemukan di sebuah desa yang berada persis di bibir Sungai Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Sebuah kampung yang penuh dengan riuh rendah suara baja ditempa palu raksasa.

Suara logam berdentang berikut percikan api berpendar dari lempengan baja merah nyaris bisa terdengar setiap hari.

Suara tempaan besi itu saling bersahutan ketika sejumlah lelaki bertangan kekar dengan sabar membentuk baja keras menjadi alat panen perkebunan. Abbas, lelaki 77 tahun, adalah salah satu di antara mereka.

Abbas tak bergeming meski harus dikelilingi hawa bara dan percikan api yang melenting. Sesekali dia menyeka butiran keringat yang membasahi lembah-lembah tajam di keningnya. Abbas adalah salah satu pandai besi paling senior di Desa Teratak, Kecamatan Rumbio Jaya, Kabupaten Kampar.

Abbas layak disebut sebagai “pahlawan” karena dedikasi dan semangatnya menularkan ilmu pandai besi di kampung itu. Kini, Abbas menjadi pandai besi paling senior di kampung yang dihuni 250 pandai besi di sana.

Kiprahnya begitu lama. Sejak duduk di Sekolah Rakyat (setara Sekolah Dasar), dia telah menasbihkan dirinya sebagai pandai besi, sekitar tahun 1960. Abbas saat ini menjadi kepala tukang. Jabatan setingkat lebih tinggi dari pandai besi yang bernaung di bawah kelompok industri kecil menengah (IKM) Rumbio Jaya Steel.

Meski berusia senja, Abbas tak mengeluh dengan pekerjaannya yang menguras tenaga. Dia justru bersyukur usaha pandai besi yang berjalan puluhan tahun dan diwariskan turun temurun masih berjalan di tengah pandemi COVID-19 seperti saat ini. Bahkan, berkat kerja keras dia dan ratusan pandai besi lainnya, ekonomi kampung yang mayoritas mengandalkan dari tukang pukul baja itu terus terjaga.

“Alhamdulillah ekonomi di kampung kami ini masih terus berjalan dengan baik meski saat ini tengah pandemi,” kata kakek yang telah memiliki 13 cucu itu.

Rumbio Jaya Steel atau RJS merupakan kelompok IKM yang khusus memproduksi alat-alat pertanian, terutama untuk perkebunan sawit. Perjuangan Abbas tak sendiri. Ada sosok sentral lainnya, Syarial (40), ketua produksi IKM RJS. Senada dengan Abbas, dia mengatakan usaha pandai besi itu sejatinya telah ada sejak 60 tahun silam.

Meski telah lama berdiri, Syarial menuturkan baru setahun terakhir mereka membentuk kelompok IKM. Sebelumnya, para pandai besi hanya beraksi di masing-masing rumah mereka. Hingga akhirnya, desa itu dijuluki Kampung Pandai Besi.

Ada tiga desa yang mayoritas masyarakatnya menjadi pandai besi. Selain Desa Teratak, ada juga Desa Simpang Petai dan Pulau Payung. Seluruhnya berada di Kecamatan Rumbio Jaya.

Selama ini, mereka memasarkan sendiri produk hasil pandai besinya. Bahkan, mereka pernah mengirim hingga ke Kalimantan, Aceh, dan beberapa provinsi lainnya di Sumatera. Namun, pesanan tersebut tak menentu.

Namun, di awal 2020, IKM RJS dilirik PT Perkebunan Nusantara V. Perusahaan milik negara yang bergerak di bidang agroindustri perkebunan sawit dan karet dengan luas areal mencapai 78.000 hektare tersebut sepakat membeli alat-alat panen sawit dan karet senilai lebih dari Rp1,6 miliar.

Kesepakatan tersebut ditandai dengan kontrak pertama yang dilaksanakan pada Februari 2020 lalu, atau sebulan sebelum Indonesia resmi menjadi salah satu yang terdampak pandemi. Kontrak pertama itu menjadi titik balik IKM RJS. Mereka kini terus berkembang saat sebagian besar dunia usaha diselimuti kebimbangan.

“PTPN V sangat membantu karena pesannya awal pandemi. Banyak orderan, kami jadi tertolong,” timpal Desrico Apriyus, Kepala Pemasaran RJS.

Saat ini seluruh pandai besi di kampung itu, termasuk yang bekerja di sentra IKM RSJ tengah mengerjakan pesanan miliaran rupiah itu. Alhasil, warga di sana pun mendapatkan pendapatan tetap hingga lebih Rp6 juta per bulan. Angka itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di desa yang berlokasi persis di bibir Sungai Kampar tersebut.

Selain membawa dampak langsung ke pendapatan warga, ternyata PTPN V juga turut mengangkat citra RJS. Desrico yang merupakan satu-satunya pengurus bergelar sarjana ekonomi itu mengatakan PTPN V tidak hanya sekedar membeli peralatan. Namun juga turut membantu mempromosikan produk-produk RJS hingga kancah nasional.

Di awal tahun 2021, PTPN V mempromosikan langsung produk ini di depan Menteri Ketenagakerjaan, Ibu Ida Fauziah saat peringatan Bulan K3 di Pekanbaru. Bahkan, belum lama ini juga diundang langsung untuk memperkenalkan produk kami di depan Ketua DPD RI Bapak La Nyalla Mattalitti.

Selain itu, PTPN V juga kerap memfasilitasi RJS untuk ikut dalam kegiatan pelatihan dan pameran. Dukungan itu membuat RJS semakin dikenal bahkan kini mulai kebanjiran pesanan. “Nama kami jadi dikenal dan sekarang ada lima perusahaan perkebunan lainnya yang juga telah memesan,” kata dia.

Selain penjualan secara langsung, RJS juga menjual produk hasil tani mereka melalui daring. Langkah itu ditempuh sebagai bagian untuk mendorong usaha itu sentra pengrajin besi di desa tersebut berkembang sesuai kebutuhan zaman.

CEO PTPN V Jatmiko K Santosa menjelaskan pihaknya mempercayakan Rumbio Jaya Steel sebagai pemasok alat-alat panen tersebut karena kualitas para pandai besi yang mampu memenuhi standar nasional dan ekspektasi perusahaan.

Hal tersebut juga merupakan wujud komitmen BUMN yang bergerak di sektor perkebunan sawit dan karet ini untuk mendukung program pemerintah agar mendongkrak perekonomian rakyat di tengah pandemi.

“Kami telah melaksanakan kontrak pengadaan senilai Rp1,6 miliar dengan Rumbio Jaya Steel sebagai wujud kehadiran kami untuk terus tumbuh dan mensejahterakan masyarakat,” kata Jatmiko.

Melalui kemitraan yang dibangun PTPN V telah memberikan multiplier effect kepada RJS sehingga mereka mendapatkan kepercayaan dari perusahaan perkebunan swasta untuk turut membeli produk lokal.

Pihaknya akan terus berusaha mendukung RJS, termasuk rencana melibatkan RJS ke dalam dana modal kerja bergulir melalui program kemitraan PTPN V pada 2020 ini.

“Keberadaan PTPN V adalah hadir untuk rakyat, dan kami bersyukur mampu menjalankan amanah negara untuk tumbuh bersama rakyat, bagi kami itulah salah satu jalan meneruskan perjuangan para pahlawan” tutur Jatmiko.

Bersertifikat SNI
Setelah lama mendapatkan pengakuan dan kepercayaan di tingkat lokal, produk perkebunan yang dihasilkan Rumbio Jaya Steel (RJS) kini berhasil mengantongi sertifikat mutu Standar Nasional Indonesia dari Badan Standarisasi Nasional pertama di Indonesia untuk kategori usaha kecil menengah (UKM). Kedua produk yang berhasil mengantongi SNI itu adalah egrek dan dodos.

Kedua sertifikat itu masing-masing terdaftar dengan nomor SNI 8205:2016 untuk dodos dan SNI 4874:2019 untuk egrek.

Sertifikat jaminan kualitas wahid tersebut diserahkan Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution kepada Kelompok Koperasi Rumbio Jaya Steel (RJS) di Pekanbaru pada pertengahan Juni 2021.

“Kita patut berbangga hati dengan produk-produk Riau yang mampu menunjukkan kualitasnya hingga berhasil meraih SNI. Ini menjadi bukti bahwa produk lokal kita bisa bersaing di tanah air. Diharapkan keberhasilan ini dapat menjadi perangsang bagi UMKM lainnya untuk meningkatkan standar produksi sesuai standar yang telah ditetapkan,” kata Edy.

Kepala Pemasaran RJS, Desrico, juga bersyukur berkat kerjas keras, akhirnya produknya diakui oleh negara dengan sertifikasi itu. Terbitnya SNI tak dipungkiri menjadi angin segar bagi 250-an pandai besi yang telah puluhan tahun menekuni bidang tersebut.

Buah kerja keras itu, ternyata telah mengangkat roda ekonomi masyarakat Desa Teratak yang mayoritas berprofesi sebagai pandai besi akan terus menggeliat.

Saat ini RJS mengirim rutin 5.000 peralatan panen ke Kalimantan setiap bulan. Bahkan produk RJS juga diterima dengan baik hingga ke Aceh.

Tentu mimpi besar manajemen RJS ini ternyata tidak semata agar produknya bisa diterima para petani dan perusahaan di seluruh Indonesia, namun diharapkan dapat menembus pasar internasional.(Riski Maruto dan Anggi Romadhoni/ANTARA)

LEAVE A REPLY