Ketum Intani Sampaikan Empat Kunci Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi

0
83
Ketua Umum Insan Tani dan Nelayan Indonesia Guntur Subagja Mahardika (foto: dok/Indonesiadaily).

INN.CO.ID – Ketua Umum Insan Tani dan Nelayan Indonesia (INTANI) Guntur Subagja Mahardika menyampaikan empat kunci ketahanan pangan di tengah Pandemi.

“Empat aspek ketahanan Pangan. Pertama, budidaya produksi. Kedua di aspek distribusi. Ketiga aspek pemerataan. Kemudian yang keempat inovasi keanekaragaman pangan,” katanya saat menjadi pembicara Webinar Inspirasi Bisnis Tani #25 dengan Tema Prospek Usaha Pangan di Tengah Pandemi, Rabu (19/5/21).

Menurut asisten Staf Khusus Wakil Presiden itu, saat ini tingkat kesejahteraan para petani masih belum baik karena disebabkan sektor hulu yang masih belum stabil.

“Para petani seharusnya menanam padi, tapi justru umumnya menanam dari segi holikultura. Padahal dari sisi aspek produk, padi ini adalah makanan yang pasarnya pasti ada,” ungkap Guntur.

Guntur menjelaskan, salah satu penyebab petani kurang berdaya adalah karena petani fokus pada budidaya. Petani tidak langsung pada hilirnya dengan mengoptimalkan pasca panen dimana terdapat proses processing, ricefeling, dan distribusi serta pemasaran.

“Ini pula yang menjadi rantai pasokan pangan. Setidaknya ada delapan sektor yang masih belum terintegrasi dari hulu sampai hilir. Di satu sisi petani bisa produksi tapi tidak tau pasarnya,” jelasnya.

“Di hilir inilah sebetulnya yang sangat penting jika pasarnya kita bisa masuk, kemudian bisa mengkoneksikan ke aspek produsen budidayanya,” imbuhnya.

Selain itu, ia mengatakan meskipun di masa pandemi, Indonesia justru mengalami surplus beras. Tahun 2020 itu nilai produksi beras mencapai 55, sekian juta ton.

“Kebutuhan konsumsi beras penduduk pertahun sekitar 30 juta ton. Berarti ada surplus beras sekitar tujuh ton. Persoalan kita saat ini ada di pemerataan dan distribusi produksi. Jadi produksi beras kita surplus tapi tidak di dalam kebutuhan yang tinggi,” katanya.

“Hal yang sama kita alami mulai dari awal tahun sampai bulan Mei ini. Kita mengalami krisis jagung sekitar 100 ribu ton. Sehingga peternakan-peternak yang mengandalkan pakan ternak dari jagung mengalami kesulitan,” tandas asisten Staf Khusus Wakil Presiden Guntur Subagja Mahardika. (ud/ed).

LEAVE A REPLY