Komisi XI DPR RI Minta BSI Atasi Stagnasi Pangsa Pasar Perbankan Syariah Nasional

0
53
Anggota Komisi XI DPR RI, Anis Byarwati (foto: Instagram/@anis.byarwati).

INN.CO.ID – Anggota Komisi XI DPR RI, Anis Byarwati meminta Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk mengatasi stagnasi pangsa pasar perbankan syariah nasional dalam rangka meningkatkan inklusi dan literasi masyarakat terkait ekonomi syariah di Indonesia.

Menurut Anis, pengoperasian BSI menjadi tonggak sejarah penting bagi perkembangan industri keuangan syariah di Indonesia. “BSI diharapkan mampu mengakhiri stagnasi pangsa pasar industri perbankan syariah nasional,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (20/3/21).

Ia menegaskan, salah satu langkah yang bisa dilanjutkan oleh Pemerintah dalam mendorong perbankan syariah untuk lebih berkembang pasca merger, adalah segera mengeluarkan kebijakan insentif perpajakan.

“Dengan adanya insentif fiskal akan bisa membuat bank syariah lebih efisien dan kompetitif. Jika pemerintah membedakan perlakuan ini, kita berharap bisa meningkatkan literasi dan inklusi bank syariah yang masih rendah,” tegasnya.

Anis juga memberi saran agar Pemerintah dan DPR memperhatikan regulasi perbankan Syariah. UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah sudah cukup lama yaitu 13 tahun sehingga perlu segera diamandemen.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia TBK Hery Gunardi dalam diskusi virtual ISEI Jakarta, Rabu (17/3), menyebutkan bahwa pada 2020 pertumbuhan aset perbankan syariah dan dana pihak ketiga (yoy) masih tumbuh hingga dua digit angka.

“Dari sisi aset masih tumbuh double digit sebesar 13,11 persen pada 2020, di sisi dana pihak ketiga juga mengalami pertumbuhan sebesar 11,88 persen, pembiayaan juga tumbuh positif sebesar 8,08 persen,” kata dia.

Kondisi tersebut, lanjut Hery, lebih baik dibandingkan perbankan konvensional maupun perbankan nasional yang disibukkan kepanikan di segmen kecil dan menengah, konsumer, serta wholesale sepanjang 2020.

Hery menyebutkan aset perbankan konvensional tumbuh 6,73 persen, kemudian dana pihak ketiga yang tumbuh 10,92 persen, namun -3,02 persen dari sisi pembiayaan. Tidak jauh berbeda dengan aset perbankan nasional yang tumbuh 7,12 persen, dana pihak ketiga tumbuh 10,99 persen serta -2,32 persen dari sisi pembiayaan.

Ia pun sadar, penetrasi bank syariah di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia yang mencapai angka 29 persen maupun negara di kawasan timur tengah seperti Saudi Arabia yang menembus angka 63 persen. (ud/ed).

LEAVE A REPLY