Pupuk Hayati Cair TOP, Karya Anak Papua Solusi Pertanian Berkelanjutan

0
128

INN.CO.ID – Di era kemajuan zaman saat ini, petani berlomba-lomba untuk meningkatkan produktifitas hasil panen salah satunya dengan menggunakan pupuk kimia. Namun banyak petani yang tidak menyadari dampak negatif jangka panjang dari penggunaan pupuk kimia bagi kesuburan tanah dan lingkungan.

Faktor inilah yang menjadi keprihatinan Thomas Yembise, narasumber inspiratif webinar inspirasi bisnis Intani seri ke 75 asal Manokwari, Papua. “Alam kita ini diciptakan Tuhan sudah subur, kenapa harus dirusak dengan penggunaan pupuk kimia. Maka saya berusaha mengembalikan mindset untuk kembali ke alam,” ujar Thomas saat mengawali paparannya, Rabu (22/06).

Thomas diangkat sebagai ASN Formasi penyuluh pertanian Kementan RI sejak tahun 2017 dan bertugas sebagai THL TBPP di Kaimanan hingga tahun 2029. “Dengan keseharian saya yang bisa dibilang sebagai PPL nomaden, saya mulai meriset untuk pembuatan pupuk dan pestisida hayati”.

Dari tahun 2017, Thomas mengatakan hasil risetnya baru berhasil di tahun 2020. “Sebenarnya bisa lebih cepat, namun keterbatasan fasilitas yang ada di Papua memang sangat mempengaruhi”.

Tekno Organik Papua (TOP), dipilih menjadi merek dagang untuk PHC karya Thomas dan hak paten sudah terdaftar di Kemenkumham dan Balitbangda Papua Barat. “Diberi nama Tekno Organik Papua dikarenakan isolat berasal dari Papua. Alam Papua yang sangat kaya, memiliki kandungan isolat bakteri yang bisa dieksplor luas menjadi PHC untuk petani di berbagai daerah. Jadi dari Papua untuk Nusantara”.

Thomas mengatakan TOP diformulasi dari mikroorganisme di sekitar perakaran serta mengandung unsur hara dan mikroba yang sesuai kebutuhan tanaman, sehingga kesehatan tanah tetap terjaga dan hasil panen berkualitas. “Sesuai tagline TOP : berantas pemborosan, dongkrak produksi dan kembali ke alam”.

Untuk cabang pemasaran selain Papua dan Maluku saat ini sudah ada di Bogor, Jawa Barat. “Niat kami dari awal ingin membantu petani, untuk lebih produktif  sekaligus menjaga kelestarian alam. Jadi kami tidak menjual dengan harga yang tinggi,” jelas Thomas.

Visi Thomas selaras dengan apa yang sering disampaikan ketua umum Intani, Guntur Subagja bahwa pertanian itu harus sejalan dengan kearifan lokal. Memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi serta tak lupa tetap menjaga kelestarian alam untuk masa depan generasi pertanian nusantara yang lebih baik.

Sebagai penutup Thomas juga menyampaikan agar terus memanfaatkan sumber daya alam sebagai pengganti pupuk kimia demi mewujudkan pertanian Indonesia yang sehat dan berkualitas. “Mari kembali ke alam. Dari alam untuk kita, dari kira untuk alam semesta,” pungkasnya.

Turut hadir pada kegiatan ini Komisaris Independen PTPN IV Sumatera Utara, Atas Wijayanto, Kepala Pusat Kekayaan Intelektual Universitas Papua, Dr.Ir.Ishak Musaad, M.P, dan Ketua Tim Teknis SATGAS Kakao Kab. Jayapura Papua, Dominggus Deda.

Webinar inspirasi bisnis Intani series tayang setiap Rabu pukul 09.00 – 11.00 WIB di TANITV.* (na-dgn)

LEAVE A REPLY