Kampung Melon Napote, Buah Kerja Cerdas Milenial Sampang

0
12

INN.CO.ID – Bicara soal pertanian bukan hanya sekedar menanam, merawat dan menjual hasil panen. Pertanian bisa berdampak besar bagi berbagai sektor ekonomi jika mampu dikelola dengan maksimal dari hulu sampai hilirnya.

Inilah yang berhasil dilakukan Mahfudh ME, narasumber inspiratif webinar inspirasi bisnis INTANI seri ke 65 sekaligus owner Kampung Melon Napote, Bira Timur, Sokobanah, Sampang – Madura serta ketua kelompok tani Gemahripah Arrohman. Tidak memiliki latar belakang pendidikan pertanian, namun ia mampu sukses di sektor pertanian mulai dari hulu sampai hilir.

“Saya ini lulusan pesantren, tidak punya basic ilmu pertanian tapi memang saya tertarik dengan bisnis pertanian ini. Sampai saya diajak oleh Dinas Pertanian Sampang untuk ikut Pelatihan Kewirausahaan Berbasis Kawasan bagi Petani Muda yang diselenggarakan Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan, setelah itulah saya terjun ke pertanian,“ tutur Mahfudh mengawali paparannya.

Mahfudh menuturkan awalnya ia mulai bertani dengan berbudidaya semangka, namun karena pasar anjlok ia mulai terpikir untuk pindah ke komoditas lain. “Saya disarankan sama teman untuk coba budidaya melon dan diinfokan juga pasarnya, lalu saya beranikan diri tanam melon di lahan seluas ¼ hektar dengan pinjam modal 21 juta. Alhamdulillah berhasil panen mencapai 8 ton, dari situ saya lebih konsen lagi budidaya beberapa jenis melon”.

Kampung Melon Napote didirikan pada tahun 2016, nama Napote dipilih dari singkatan asal kata tanah pote (tanah putih) yang ada di Bira Timur. Saat ini Mahfudh sudah membudidayakan 15 jenis melon serta cabai besar jenis imola dan columbus. Untuk budidaya melon ada yang open field dan greenhouse dengan sistem hidroponik fertigasi sedangkan cabai menggunakan sistem aquaponik.

Pria berusia 28 tahun ini pun mengatakan dalam satu tahun melon bisa panen 3 sampai 4 kali dan cabai hanya 2 kali. Untuk omset melon mulai dari 210 juta sampai 510 juta per hektar sedangkan cabai 350 juta sampai 1,4 miliar per hektar. “Yang terpenting sebelum memilih komoditas untuk dibudidayakan adalah pastikan pasarnya ada dulu,” pesan Mahfudh.

Lebih lanjut Mahfudh mengatakan dari awal budidaya hingga mengembangkan ke agrowisata ia bekerja sama dengan stakeholder terkait mulai dari pemda, bank pemerintah dan kelompok tani. “Fokus saya saat mulai membangun agrowisata yaitu promosi, sampai dapat perhatian dari Bupati hingga difasilitasi untuk memperoleh CSR dari Bank BRI untuk pembangunan sumber air. Dari situ kerja sama terus terjalin hingga bisa akses pembiayaan KUR Tani”.

Di Kampung Melon Napote juga disediakan tempat magang, jadi tidak hanya wisata tetapi ada nilai edukasi. Ia pun menuturkan memberdayakan Kelompok Wanita Tani untuk membuat produk olahan mulai dari sari melon, dodol, kripik daun cabai hingga sisa kulit buah dijadikan pupuk cair organik. “Jadi hampir zero waste, kami mengelola semua untuk meningkatkan nilai ekonomi”.

Guntur Subagja, selaku ketua umum Intani menyampaikan pengantarnya bahwa Mahfudh berhasil memberikan gambaran nyata bagaimana sektor pertanian. “Seharusnya seperti ini petani kita terutama para petani muda, bukan hanya kuasai ilmu budidaya saja tetapi juga teknologi, meningkatkan nilai tambah dan pemasaran”.

“Madura memiliki potensi alam yang cocok dengan pertanian dan perikanan, tinggal bagaimana pemuda di sana mau mengembangkannya. Dan Mahfudh berhasil melakukan itu, kedepannya menjadi tugas kita bersama Intani bagaimana membranding produk-produk di Madura serta meningkatkan produktifitas dari segi pasar, akses permodalan dan akses prasarana lainnya” pungkas Guntur.

Webinar ini ditayangkan secara streaming di TANITV, Rabu (30/03).* (na-in)

LEAVE A REPLY