Sosialisasikan Program Good Design Indonesia, Kemendag Bidik Peningkatan Ekspor Industri Manufaktur

0
149
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Didi Sumedi membuka Sosialisasi Good Design Indonesia (GDI) 2022 yang digelar di secara hibrida dari Kota Bandung

INN.CO.ID, Surabaya–Direktorat  Jenderal  Pengembangan  Ekspor  Nasional  (Ditjen  PEN) Kementerian Perdagangan membidik peningkatan ekspor di sektor industri manufaktur. Salah satu upayanya dilakukan melalui perbaikan desain produk manufaktur.

Ditjen  PEN  menggandeng  Institut  Sepuluh  Nopember  (ITS)  Surabaya  dan Universitas  Ciputra  Surabaya  untuk   menyosialisasikan    program  Good  Design  Indonesia  (GDI) 2022.  Kegiatan  dilaksanakan    secara  hibrida  di  Surabaya,  Jawa  Timur.  Acara  ini  dihadiri  para akademisi, desainer, dan pelaku usaha.

“Kementerian Perdagangan telah melakukan beberapa langkah strategis untuk meningkatkan ekspor. Misalnya, memfokuskan kembali ekspor dari produk primer ke produk industri atau olahan bernilai  tambah,  diversifikasi  produk  ekspor,  serta  menjalin  perjanjian  perdagangan  dengan negara mitra dagang baru. Momentum peningkatan ekspor sepanjang tahun 2021 yang mencetak rekor  baru  di  angka  USD  219,25  miliar  juga  perlu  dijaga melalui  program  kerja  yang  mendukung target  peningkatan  ekspor  dan  percepatan  pemulihan  ekonomi  nasional,”ujar   Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi pada kesempatan terpisah.

Direktur Jenderal PEN Didi Sumedi menjelaskan, sosialisasi GDI 2022 merupakan salahsatu upaya Kemendag dalam mengeksplorasi potensi industri di dalam negeri yang bernilai komersial tinggi di pasar   global. “GDI  juga  merupakan  bentuk  apresiasi  terhadap  desainer  dan  pelaku  usaha berpotensi ekspor yang berhasil menciptakan produk dan jasa bernilai tambah. Khususnya produk manufaktur yang memanfaatkan kecanggihan teknologi,”kata Didi.

Didi  menyampaikan,  selain  dari  sisi  fungsi  dan  estetika,  nilai  tambah  yang  menjadi  fokus  pada tahap penjurian GDI adalah nilai komersialnya di pasar domestik maupun global, serta dampaknya terhadap pelestarian lingkungan dan pemberdayaan komunitas.

“Kriteria penilaian tersebut berangkat dari kesadaran atas dampak gaya hidup manusia yang berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap lingkungan. Pengaruh tersebut menyebabkan terjadinya  peningkatan  permintaan  pasar  terhadap  produk-produk  dan  jasa  yang  berkelanjutan serta ramah lingkungan,”jelas Didi.

Dalam  praktiknya,  lanjut  Didi,  pemerintah  tidak  dapat  bekerja  sendiri.  Untuk  mewujudkan  hal tersebut,  dibutuhkan  upaya  kolektif  dari  semua  pemangku  kepentingan  dalam  pengembangan produk  berbasis  desain  berkelanjutan  dengan  tetap  mengedepankan  kreativitas  dan  inovasi melalui pemanfaatan teknologi.

“Ke depan, aspek keberlanjutan(sustainability), ekonomi  hijau(greeneconomy),  dan ekonomi digital(digital economy) akan membentuk pengembangan desain di masa mendatang. Hal ini juga sejalan  dengan  visi  pemerintah  dalam  mewujudkanSustainable Development Goals (SDGs),” imbuh Didi.

Direktur    Pengembangan    Produk    Ekspor    Miftah    Farid    menuturkan,    selama    lima    tahun penyelenggaraan GDI, Kemendag telah melihat produk atau jasa hasil karya pelaku usaha berlatar belakang pendidikan desain formal yang memiliki konsep bagus. Umumnya, pelaku usaha tersebut juga  memiliki  kemampuan  menulis  dalam  menjelaskan  produk  (story  telling)yang  inspiratif  serta mampu menyampaikan pesan atau makna suatu produk dengan baik.

“Untuk  itu,  Kemendag  secara  intensif  menyosialisasikan  kegiatan  GDI  kepada  pemangku kepentingan  tertarget  dan  menjelaskan  secara rinci  mengenai  mekanisme  pendaftaran  dan kriteria  penilaian.  Materi  lainnya  yang  menjadi  fokus  kegiatan  sosialisasi  yaitu  manfaat  bagi pelaku  usaha  atau  desainer  yang  berhasil  meraih  penghargaan  GDI.  Contohnya,  meningkatnya reputasi   perusahaan   dan   produk   serta   pengakuan   dan   kepercayaan   konsumen,   sekaligus memperluas pemasaran produk baik di pasar domestik maupun ekspor,”jelas Miftah.

Selama  acara  berlangsung,  lanjut  Miftah,  para  peserta  juga  memberikan  masukan  seputar  isu mengenai  keterkaitan  antara  desaindan  peluang  pasar  ekspor  bagi  produk  dan  jasa  bernilai tambah. “Kemendag  mengapresiasi  kontribusi  lembaga  pendidikan  dalam  mencetak  pelaku-pelaku usaha baru yang memiliki talenta desain sekaligus kemampuan bisnis yang mumpuni,”pungkas Miftah.

Penyelenggaraan GDI 2022 mengusung tema “Gateway towards Global Market”. Tujuannya untuk mendukung   perkembangan   desain   industri   berteknologi   tinggi   di   Indonesia.   Selain   itu,   GDI diharapkan dapat membangun  citra Indonesia sebagai negara yang mampu menghasilkan  produk dengan desain baik dan dapat dijual untuk menjadi sumber ekonomi bagi pekerjanya.

Pendaftaran  GDI  telah  dibuka  sejak  tanggal  20  Januari  2022  dan  akan  ditutup  pada  akhir  Maret 2022. Informasi lengkap tentang GDI dan formulir pendaftaran daring dapat diakses melalui tautan iddc.kemendag.go.id/gdi atau menghubungi panitia melalui surat elektronik ke direktoratp2e@kemendag.go.id.

Sebelumnya  pada  17  Februari  2022  lalu,  Kementerian  Perdagangan  juga  telah  menyosialisasikan GDI  2022  secara  hibrida  di  Bandung,  JawaBarat.  Selanjutnya,  sosialisasi  akan  digelar  pada  1—4 Maret 2022 secara hibrida di Yogyakarta.* (sil-rls)

LEAVE A REPLY